Sabtu, 31 Maret 2018
Rabu, 31 Mei 2017
Anak
Indonesia harus tau Perkembangan TI
(tinjauan permasalahan ilmu
pengetahuan, teknologi, dan kemiskinan)
Selama beberapa tahun terakhir
ini perkembangan teknologi informasi (TI) semakin maju sejalan dengan kebutuhan
manusia yang semakin meningkat. Pengenalan terhadap perangkat teknologi pun
seharusnya sudah dilakukan sejak dini agar tidak “gaptek” atau gagap teknologi
di era globalisasi yang semakin berkembang apalagi di Indonesia. Anak-anak
indonesia harusnya telah diperkenalkan pada teknologi itu sejak pre-school,
sekitar usia 4 tahun.
Menurut Tika Bisono, penggunaan teknologi
informasi yang semakin canggih pada anak-anak, seharusnya mendapat pendampingan
dari orang tua. “Orangtua dapat mengarahkan anak-anak dalam penggunaan
perangkat-perangkat teknologi tersebut, sehingga penggunaannya tidak melewati
batas-batasnya. Tapi orangtuanya harus belajar dulu. Dan perlu semacam edukasi
teknologi untuk orangtua,” ujar Tika.
Menurut hasil penelitian lembaga
riset pasar ritel dan konsumen global, NPD Group yang berkedudukan di New York,
Amerika Serikat, pada pertengahan 2007, anak-anak usia empat sampai lima tahun
yang berada di Amerika Serikat, paling sering menggunakan perangkat teknologi
komputer. Walaupun penelitian ini dilakukan di Amerika Serikat namun hasilnya
bisa menjadi sebuah rujukan bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia,
seiring dengan meningkatnya fenomena anak-anak yang akrab dengan dunia TI.
Dalam kasus ini memang
perekonomian di Indonesia belum merata disetiap daerahnya. Dan hal ini dapat
dibuktikan dengan halnya masyarakat terpencil yang tidak mengerti bahkan tidak
mengetahui adanya teknologi dan informasi ini. Dan hal ini masih sangat minim
dan seharusnya menjadi sorot pemerintah agar memberikan penyuluhan atau
sejenisnya sehingga masyarakat terpencil pun dapat mengetahui betapa berperan
nya teknologi dalam kehidupan.
Pengenalan teknologi yang seharusnya sudah
diperkenalkan sejak dini oleh orang tua dapat memperkecil kemiskinan dari
dampak perubahan teknologi yang berkembang secara tidak merata sehingga masih
terdapat daerah-daerah di Indonesia ini yang belum tersentuh oleh teknologi
secara langsung. Perkembangan teknologi
secara merata dan menyeluruh akan membuat suatu daerah itu menjadi maju dan
memiliki sumber daya yang berkualitas. Kaitan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan
Kemiskinan
Ilmu pengetahuan dan teknologi
merupakan dua hal yang tak terpisahkan dalam peranannya untuk memenuhi
kebutuhan manusia. Ilmu pengetahuan digunakan untuk mengetahui “apa” sedangkan
teknologi mengetahui “bagaimana”. Ilmu
pengetahuan sebagai suatu bahan pengetahuan sedangkan teknologi sebagai seni
yang dibuat untuk memproduksi, berkaitan dalam suatu sistem yang saling
berinteraksi. Teknologi merupakan penerapan ilmu pengetahuan, sementara
teknologi mengandung ilmu – ilmu pengetahuan yang terkandung dalamnya.
Ilmu pengetahuan dan teknologi
dalam penerapannya, keduanya menghasilkan suatu kehidupan di dunia yang
diantaranya membawa malapetaka yang belum pernah dibayangkan. Oleh karena itu,
ketika manusia sudah mampu membedakan ilmu pengetahuan (kebenaran) dengan etika
(kebaikan), maka kita tidak dapat bersikap netral terhadap penyelidikan ilmiah.
Sehingga dalam penerapan atau mengambil keputusan terhadap sikap ilmiah dan
teknologi, terlebih dahulu mendapat pertimbangan moral dan ajaranagama.
Tes
keperawanan
(tinjauan
permasalahan prasangka, diskriminasi dan etnosentrisme)
Perempuan merupakan makhluk lemah
lembut dan penuh kasih sayang karena perasaannya yang halus. Secara umum sifat
perempuan yaitu keindahan, kelembutan serta rendah hati dan memelihara.
Demikianlah gambaran perempuan yang sering terdengar di sekitar kita. Perbedaan
secara anatomis dan fisiologis menyebabkan pula perbedaan pada tingkah lakunya,
dan timbul juga perbedaan dalam hal kemampuan, selektif terhadap kegiatan
kegiatan intensional yangbertujuan dan terarah dengan kodrat perempuan.
Ketika seharusnya perempuan harus
dilindungi dan dijaga kehormatannya kini tidak dengan semua itu. Pada tahun
2010 perempuan dikejutkan dengan adanya diskriminasi perempuan yang terjadi.
Perempuan dikejutkan dengan adanya berita dari kepala dinas kota prabumulih,
H.M. Rasyid yang merencanakan untuk memberlakukan tes keperawanan bagi calon
siswa SMA sederajat. Dan baginya kasus ini untuk menekan kasus prostitusi yang
diduga melibatkan siswa didaerahnya. Tetapi dengan memberlakukan rencana
kebijakan ini justru mengundang protes dibebagai kalangan.
Adanya tes keperawanan ini pun
sempat beredar dan ini bukan lah yang pertama kali. Ini pernah terjadi pada
tahun 2010 anggota DPRD Jambi mengusulkan tes keperawanan bagi pelajar
perempuan dan mahasiswi. Dan pada tahun 2007 Bupati Indramayu melontarkan tes
keperawanan bagi pelajar perempuan akibat marak peredaran VCD pornografis.
Bagaimana tidak protes? Hal ini
sangat tidak wajar diberlakukan dan sangan memojokan atau mengucilkan kaum
perempuan. Mungkin sebagian berpikir agar disekolahnya tidak ada yang jebol
atau hamil diluar nikah atau pun bebas dari seks bebas. Tetapi, tidak adakah
cara lain yang dapat diberlakukan apa seorang wanita yang jebol tidak pantas
untuk mendapatkan pendidikan seperti yang lainnya. Lalu apa kabar dengan para
lelaki bermuka dua diluar sana yang tidak terlihat bekasnya. Hal ini sangat
tidak adil diberlakukan.
Saya sebagai perempuan pun tidak
menyetujui hal ini, mungkin tujuan nya baik tetapi sangat tidak bisa diterima
di telinga kita meskipun tidak melihat langsung. Dan sangat-sangat menjatuhkan
martabat perempuan. Tidakkah mereka berpikir jika kita berada dalam posisi
mereka. Tidakkah mereka jika diketahui tidak perawan tersebut tidak akan
dikucilkan? Itu justru membuat mereka dipojokkan. Sangat tidak masuk akal
adanya hal ini.
Rencana
kebijakan ini mengandung sederet persoalan:
Pertama, adanya diskriminasi
terhadap anak perempuan yang dinyatakan tidak perawan yaitu mendapat stigma
negatif dan potensi dilanggar haknya untuk melanjutkan pendidikan, yang
melanggar Pasal 28B ayat (2) berbunyi “Setiap anak berhak atas kelangsungan
hidup, tumbuh, dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan
diskriminasi” serta Pasal 28C ayat (1) UUD 1945 berbunyi “Setiap orang berhak
mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat
pendidikan & memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni
& budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya & demi kesejahteraan umat
manusia”.
Kedua, kebijakan ini melanggar
otonomi tubuh perempuan. Perempuan memiliki hak kemerdekaan atas tubuhnya
sendiri. Intervensi melalui tes keperawanan menjadi sebuah pelecehan dan
kekerasan terhadap perempuan.
Ketiga, tes keperawanan merupakan
kebijakan yang lahir dari cara pandang diskriminatif terhadap perempuan oleh
penyelenggara negara. Pada kasus prostitusi dan perdagangan perempuan
(trafficking in persons, especially women and child), penyelenggara negara
menempatkan akar masalah pada “moral perempuan yang tidak terpuji”.
Penyelenggara negara kemudian menghasilkan kebijakan yang diskriminatif seperti
tes keperawanan. Dalam hal ini, Pemerintah dan Pemerintah Daerah menyalahi UU
No. 7 Tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi Penghapusan Segala Bentuk
Diskriminasi terhadap Perempuan dimana negara diwajibkan membuat
peraturan-peraturan yang tepat untuk mengubah pola tingkah laku sosial dan
budaya laki-laki dan perempuan dengan maksud untuk mencapai penghapusan
prasangka-prasangka, kebiasaan-kebiasaan dan segala praktek lainnya yang
berdasarkan atas inferioritas atau superioritas salah satu jenis kelamin atau
berdasar peranan stereotip bagi laki-laki dan perempuan (Pasal 5 huruf a).
Selain itu, juga menyalahi Inpres No 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan
Gender dalam Pembangunan Nasional yang telah ditindaklanjuti secara khusus
dalam bidang pendidikan berupa Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 84
Tahun 2008 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender Bidang
Pendidikan.
Keempat, kebijakan ini
bertentangan dengan arah pendidikan untuk membangun kepribadian anak seutuhnya
dan penghormatan atas nilai-nilai HAM. Konvensi Hak Anak yang telah
diratifikasi melalui Keppres No 36 Tahun 1990 menegaskan bahwa pendidikan anak
salah satunya harus diarahkan ke pengembangan kepribadian anak, bakat,
kemampuan mental dan fisik pada potensi terpenuh mereka; dan pengembangan
penghormatan terhadap hak-hak asasi manusia dan kebebasan-kebebasan dasar dan
prinsip-prinsip yang diabadikan dalam Piagam PBB (Pasal 29 ayat (1)). Memberlakukan
tes keperawanan sebagai cara menekan kasus prostitusi dapat dilihat sebagai
bentuk penghukuman terhadap anak yang diduga telah berhubungan seksual dan/atau
merupakan korban kekerasan seksual. Pendidikan yang seharusnya terus menerus
membangun kepribadian dan karakter anak, malah menjadi ajang menghancurkan masa
depan anak.
Oleh karena itu agar kita dapat
menghindari dan mencegah tindakan mendiskriminasi orang lain maka kita harus
memiliki sikap menghargai dan menghormati sesama tanpa memandang buruk orang
lain dengan begitu setiap keputusan yang kita buat akan dipikirkan dengan
matang dampak dan pengaruh yang akan terjadi. Kemudian selain itu perlu nya
memperluas wawasan kita dengan menengok
lingkungan sekitar, dan ada baiknya jika kita memiliki sifat tidak ikut-ikutan
orang lain atau pun memihak tanpa ada dasarnya. Karena kebanyakan dari kita
hanya ikut-ikutan mendiskriminasi orang lain tanpa tahu alasan dan penyebab
yang pasti.
Intoleransi
makin berkembang di Indonesia
(tinjauan
permasalahan warganegara dan negara)
Toleransi dan intoleransi, dua
kata ajaib yang bisa memiliki arti penting dalam mendirikan sebuah Negara.
Apalagi bila negara tersebut memiliki keanekagragaman budaya, agama, adat
istiadat seperti negara kita ini, Indonesia. Seiring dengan berkembangnya
zaman, dua kata tadi muncul ke permukaan melalui bantuan media-media yang ada.
Jika dulu toleransi adalah hal
yang selalu dijadikan fondasi persatuan dan kesatuan. Merupakan ciri khas
masyarakat kita, tiba-tiba saja kata
intoleransi muncul secara serampangan baik di jejaring sosial maupun
berita-berita harian, baik cetak maupun online. Seolah-olah mengungkapkan
kebohongan adanya toleransi dalam masyarakat yang ada.
Toleransi berarti adanya sikap
saling menghargai. Menghormati dalam keberagaman. Mengasihi tanpa pandang bulu
siapa dia. Dari mana latar belakangnya. Siapa orang tuanya, atau di mana ia
dilahirkan. Toleransi berarti hidup berdampingan. Saling sapa, senyum, membantu
yang membutuhkan. Menolong mereka dalam musibah. Salinng menguatkan baik dalam
perkara yang besar dan perkara yang kecil.
Jika kita tengok kebelakang,
banyak sekali contoh toleransi dalam kehidupan kita. Tak perlu jauh-jauh
melihat berita untuk menemukannya. Sebut saja, di sekolah tempat kita menimba
ilmu. Dalam satu kelas mayoritas bukan orang Indonesia asli. Ada keturunan
Arab, ada keturunan Jepang, ada pula asli kelahiran Indonesia, namun pemegang
passpor Malaysia.
Bukan hanya dari segi suku mereka
berbeda. Dari segi intlektualpun mereka sangat plural. Ada yang ber IQ tinggi.
Ada yang yang belum mampu berkomunikasi dengan baik. Beberapa anak bahkan masih
harus mendapat perhatian khusus karena mereka berkebutuhan khusus.
Tapi saat mereka mulai
mengerjakan tugas. Yang paling pandai akan membatu yang paling tidak bisa. Tak
peduli dari mana latar belakang mereka. Ketika satu diantara mereka yang tak
bisa komunikasi hilang, teman-teman lain berusaha mati-matian mencarinya tanpa
paksaan dari siapapun. Itulah yang
disebut toleransi.
Mungkin sebagian berfikir,
toleransi mereka karena settingan atau di kondisikan demikian oleh sekolah.
Kita bisa menulusuri contoh lain yang lebih popular saat ini. Jika anda
berjalan-jalan ke Solo, di sekitar jalan Jalan Gatot Subroto, bisa terlihat
sangat jelas ada hal ganjil di sana. Ganjil bukan karena tabu melainkan karena
ada Masjid bersebelahan dengan gereja. Dua bangunan ini, sudah cukup layak menjadi
saksi bisu hidupnya toleransi antar kepercayaan di daerah tersebut.
Bagaiman dengan kata
intoleransi?. Masih segar di ingatan
saya saat seorang guru kewarganegarran menerangkan apa itu intoleransi.
Panjang sekali maknanya. Yang jelas kata ini mencerminkan adanya sikap saling
benci. Saling tidak memahami. Iri hati, tidak mau mengalah, mementingkan
kepentingan golongan.
Tak ada penghargaan atas hak
apapun yang Tuhan titipkan pada mereka. Mereka selalu mengatakan saya benar,
ikuti atau terlindas. Turuti atau pergi. Miris memang jika harus di terangkan
dengan bahasa yang saya pakai. Mengingat saya sendiri juga salah seorang yang
pernah mengalami intoleransi itu. Trauma dan ketakutan menjadi penglaman tak
terlupakan mengenai kata intoleransi.
Ikut menghargai perbedaan serta
berpartisipasi menjadi bagian dari sendi-sendi persatuan dan kesatuan bangsa,
semestinya menjadi suatu keharusan bagi setiap warga negara Indonesia.
Mengingat pancasila sila ke 3 berbunyi “Persatuan Indonesia”. Faktanya banyak
di antara kita, hanya hafal sila ke tiga tersebut.
Tapi untuk melaksanakannya,
jangan harap. Mengingat, masih banyak sekali perbedaan yang ada antara satu
individu dengan individu lain. belum lagi ada segelintir golongan dengan
pengaruh yang kuat berusaha menyusupkan paham atau ideologi yang mereka yakini.
Sadar atau tidak hal inilah yang juga memicu tumbuhnya sikap intoleransi pada
masyarakat kita.
Sangatlah tidak etis jika saya
harus mencontohkan intoleransi dari segi kehidupan saya. Mari kita ambil contoh
dari berita yang sudah tidak diragukan lagi kebenarannya. Beberapa bulan lalu
saat sebagian besar masyarakat Indonesia menunaikan ibadah puasa, masyarakat
digegerkan dengan berita mengenai penutupan warung oleh oknum satpol PP.
Dialah nenek Saeni, seorang
penjual nasi di daerang Serang, Banten. Hari itu, Rabu tanggal 8 Juni 2016.
Bagaikan tersambar petir dengan lengan tinggi, tiba-tiba satpol PP merampas
semua dagangan yang ada di warungnya. Dengan alasan adanya pelarangan berjualan
di bulan itu.
Dalam kasus ini, ada pihak yang
pro dan setuju atas penggerebakan itu. Ada pula yang merasa tindakan tersebut
terlalu berlebihan. Mengingat ada lebih dari satu agama di Indonesia. Bagi
pihak yang merasa kontra, mereka sampai rela mengumpulkan banyak donasi untuk
mengganti kerugian ibu Saeni. Bagi mereka yang Pro, tentu saja tindakan
penggalangan dana tersebut dianggap
bodoh.
Kurang ekstrimkah contoh di atas?
Mungkin dengan melihat keadaan di DKI Jakarta
sekarang, akan membuat sebagian kita bisa melihat dengan jernih. Salah satu calon Gubernur yang akan maju
dalam PILKADA mendatang berasal dari kaum minoritas.
Permasalahan bukan hanya dari
segi etnis, agama bahkan juga banyak isu-isu lain yang diangkat para
pendukung calon-calon Gubernur yang akan
menjadi lawannya.
Pertempuran tidak akan seru bukan
jika hanya berjalan biasa-biasa saja, hal inilah yang coba diyakini oleh Sang
Gubernur yang mencalonkan diri kembali.
Ia berusaha tetap santai dan tidak terlalu ambil pusing atas intoleransi yang
dialaminya. Baginya intoleransi seperti itu sudah sering terjadi. Hanya saja
bedanya dulu tidak terblow up oleh media.
Pada dasarnya di dalam setiap
kehidupan ini, selalu saja ada pilihan. Pilihan untuk bertindak baik atau
buruk. Pilihan untuk menjadi bagian dari masyarakat penuh toleransi, atau
sebaliknya. Ikut dalam pusaran sekelompok orang yang tidak mengenal perbedaan
sama sekali, intoleransi atau sebaliknya, menjadi bagian dari golongan anti
toleransi yang memukul rata semua perbedaan.
Sebagai salah satu insan yang
lahir di bumi Pertiwi, saya pun akan lebih setuju mengikuti jejak para toleran.
Bukan karena saya sering mendapat perlakuan kurang adil, melainkan karena saya
ingin menjadi waraga Negara yang baik. Saya tidak ingin merusak Negara ini
dengan paham intoleransi. Saya ingin negara ini menjadi semakin kuat dalam
perbedaan, dengan kata toleransi sebagai perekatnya.
Dalam kasus lain kita ketahui
bahwasanya intoleransi semakin meningkat setiap tahunnya dan jawaban nya pun
karena pemerintah menganggap wajar terhadap hal ini dan mengabaikan hak asasi
manusia yang ada. Hal ini terlihat ketika presiden kita SBY sangat minim kaitan
nya dengan intoleransi di Indonesia. SBY hanya gemar melakukan komitmen
politik-politik kata yang berujung pada pencitraan. Hal ini terlihat dari
penelitian institute tahun 2011.
Kita mungkin tidak akan lupa
mengenai kasus Ahmadiyah, kasus pembakaran gereja, kasus syah serta kasus
lainnya. Apakah kasus diatas semua disebutkan akan penyelesaian mengenai hal
ini? Cukup disayangkan negera tidak berani mengungkap dan menindak para pelaku.
Negara justru membiarkan dan terlihat seperti tertekan terhadap sekelompok
masyarakat. Artinya dalam kasus intoleransi negara kalah dan tidak mampu
memberikan perlindungan terhadap warga negara nya.
Adapun
cara yang dapat meningkatkan sikap toleransi antara lain :
-
Menumbuhkan rasa Kebangsaan dan dan Nasionalisme.
-
Mengakui dan menghargai Hak Asasi Manusia.
-
Tidak memaksakan kehendak orang lain dalam memilih.
-
Memberikan bantuan pada setiap yang membutuhkan tanpa memandang perbedaan.
-
Memperkokoh silaturahmi dan menerima perbedaan.
Pada hakikatnya Indonesia adalah
Negara yang memiliki keragaman agama, suku, dan budaya. Namun keanekaragaman
tersebut tidak akan menjadikan kita tercerai berai bila kita dapat menjaga
keanekaragaman itu dengan saling bertoleran. Toleransi adalah tonggak untuk
mewujudkan kehidupan yang rukun, harmonis, aman, dan tentram. Untuk itu marilah
kita saling toleran agar supaya perbedaan diantara kita dapat menyatu dan
menjadikan Negara kita Negara yang majemuk dan sejahtera.
Rabu, 03 Mei 2017
Terjebak pada Raga yang Salah
(tinjauan permasalahan pelapisan sosial dan kesamaan
derajat)
Waria adalah
singkatan dari “wanita pria”, waria atau sering kita sebut banci dalam kehidupan sehari-hari merupakan salah satu bentuk
penyimpangan sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Waria kadang menjadi
perbincangan yang tak kalah menarik dan tentunya sangat tidak asing untuk kita
dengar karena sering sekali menjadi perbincangan masyarakat. Bagaimana mungkin
seseorang pria berperilaku seperti layaknya wanita dan hal tersebut sangatlah
tidak wajar, karena tuhan hanya menciptakan dua gender yaitu wanita dan pria
dengan segala kelebihan dan kekurangan nya masing-masing. Tapi coba kita lihat
para waria dari sisi fisik mungkin akan terlihat aneh bagi sebagian masyarakat,
bahkan seseorang banyak sekali yang memandang sebelah mata tanpa memperhatikan
sisi kehidupan lain dari para waria tersebut.
Pendapat
lain mengenai waria adalah kecenderungan seseorang yang tertarik dan mencintai
sesaama jenis. Sedangkan pendapat lain menjelaskan bahwa waria adalah
individu-individu yang ikut serta dalam sebuah komunitas khusus yang para
anggotanya memahami bahwa jenis kelamin itulah yang merupakan objek seksual
yang paling menggairahkan (koeswinarno,1996).
Secara
fisiologis waria itu sebenarnya adalah pria. Namun pria tersebut
mengidentifikasi dirinya menjadi seorang wanita baik dalam tingkah dan lakunya
misalnya saja dalam cara berpakaian nya, dandanan nya, cara berjalan nya hingga
cara bicara nya mereka dapat menyerupai perempuan. Begitu juga dalam kehidupan
sehari-hari kadang mereka telah terbiasa sehingga mereka juga merasa dirinya
sebagai seseorang wanita yang memiliki sifat yang lemah lembut.
Mereka
melakukan sehari-harinya dengan normal, umumnya kebanyakan dari mereka
berprofesi di bidang yang memerlukan keterampilan yang biasanya dilakukan oleh
para wanita. Seperti salon, butik, atau bidang-bidang kesenian lainnya.
Meskipun ada beberapa yang bekerja dikantoran mereka tetap tampil apa adanya
tidak ada yang mereka tutup-tutupi dari ciri kewariaan mereka baik itu cara
berpakaian nya tingkah laku dan sebagainya. Jika mereka memakai pernak-pernik
wanita sering kali dulu mereka menutup-nutupi kecenderungan sifat waria yang
mereka miliki namun, saat ini seseorang waria justru terbuka bahkan ada saja
yang terlihat bangga dengan adanya penampilan mereka sebagai waria tersebut.
Banyak hal
yang menyebabkan waria yang melatari dirinya untuk menjadi seorang waria itu
sendiri kebanyakan dari mereka menyebutkan faktor terjebak pada raga yang
salah. Namun ada juga faktor lain yang menyebabkan seseorang menjadi waria
antara lain:
-terjebak pada raga yang salah
Banyak waria yang akhirnya mengaku-ngakui penempatan
raga. Beberapa waria beralasan bahwa sebenarnya mereka adalah seorang perempuan
tetapi dilahirkan dalam wujud laki-laki. Para waria pun mengakui bahwasanya
naluri dalam dirinya murni seratus persen perempuan.
-adanya mutasi gen
Secara medis, ada hormon yang menyebabkan seorang pria
bertingkah laku layaknya seorang wanita dan bahkan merasa lebih nyaman dengan
tingkahnya yang seperti itu. Mutasi gen ini yng menyebabkan kelainan gen pada
pria yang bersangkutan. Misalnya model gen XXY, gen wanita (X) lebih dominan.
Maka pria tersebut akan mengalami kelainan yang mencolok pada bagian tubuhnya.
Misalnya, tumbuh payudara seperti perempuan.
-tuntutan ekonomi
Faktor ekonomi ini dapat dikatakan sebagai alasan yang
paling kuat dan paling konkret yang menyebabkan seseorang menjadi waria. Dalam
kasus ini mereka yang berperan sebagai waria beranggapan bahwasanya dengan menjadi
waria yang hanya bersifat kepura-puraan ini demi medapatkan uang. Padahal masih
banyak cara lain yang bisa ditempuh, dengan adanya hal ini kepura-puraan
tersebut bisa menjerat waria kedalam kebiasaan hingga akhirnya kebablasan.
-terpengaruh budaya barat
Di era globalisasi ini manusia rentan terpengaruh oleh
budaya-budaya luar negeri yang mayoritasnya tidak sesuai dengan kebudayaan
Indonesia. Salah satunya adalah plihan menjadi waria, di beberapa negara pernikahan sejenis memang
sudah dilegalkan oleh negara termasuk pilihan seseorang untuk mejadi waria.
Bahkan negara-negara tersebut sering megadakan kontes-kontes kecantikan yang
mana sebagian besar peserta nya dari kalangan waria. Hal ini yang turut ditiru
oleh masyarakat Indonesia. Mereka mengadopsi budaya luar tanpa penyesuaian
hingga akhirnya menimbulkan penyimpangan.
-trauma
Faktor traumatis memang bisa menjadi pemicu seseorang
memutuskan untuk menjadi waria, boleh jadi pria tersebut mendapat perlakuan
yang tidak senonoh ataupun perlakuan yang membuat pria tidak nyaman sehingga ia
merasa nyaman dengan keadaan nya yang menjadi waria. Bisa pula karena ia sempat
disakiti oleh wanita sehingga pria tersebut jadi menyukai sesama jenis dengan
jalan mengubah dirinya menjadi wanita dan dengan hal tersebut biasanya mereka
merasa dihargai dengan tingkahnya yang kewanita-wanitaan sehingga seseorang
bisa saja kebablasan karena telah menjadi kebiasaan sehingga ia lupa bahwa dia
adalah seorang pria.
-pengaruh lingkungan
Hal ini tidak dapat dipungkiri bahwa lingkungan kerap
menjadi pengaruh yang besar terhadap penentuan tingkah dan laku seseorang dan
merupakan faktor pendukung terbesar yang menentukan masa depan seseorang.
Termasuk menentukan waria atau tidaknya seorang pria. Pria yang sejak kecilnya
bergaul dengan wanita, cenderung tumbuh menjadi sosok seperti wanita. Contoh
lain, pria yang bekerja di salon cenderung memiliki sifat gemulai seperti
wanita karena yang dia layani setiap harinya adalah wanita
-akhir zaman
Dalam agama islam, telah disebutkan bahwa salah satu
tanda kiamat atau akhir zaman adalah seseorang pria yang bertingkah laku
layaknya wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki ataupun bertingkah laku
seperti laki-laki. Melihat kondisi ini, tampaknya hari kiamat semakin dekat
seiring menjamurnya para pria. Begitu banyak alasan seseorang memilih menjadi
waria karena mutasi gen ataupun profesi. Namun, alasan apapun tidaklah bisa
dijadikan pembenaran karena agama terang-terangan melarang seseorang menjadi
wanita dan sebaliknya. Apalagi jika pengingkaran kodrat nya disertai dengan
suntik silikon untuk menumbuhkan payudara.
Keinginan
waria yaitu untuk hidup dan diterima sebagai anggota kelompok lawan jenis,
biasanya disertai dengan rasa tidak nyaman atau tidak sesuai dengan jenis
kelamin sehingga waria juga ingin di terima keberadaan nya yang tidak diterima
dimasyarakat karena bagaimanapun mereka menjadikan waria sebagai masalah
sosial. Tahapan seseorang menjadi waria dikarenakan banyak faktor yang
mendukung dan mendorong nya salah satunya adalah salah asuhan. Meski seseorang
menganggap bahwa orang tua nyalah yang salah namun orang tua tetap saja tidak
mau menerimanya ketika anaknya memutuskan untuk menjadi waria. Meski demikian
waria mempunyai fungsi dimasyarakat yang juga mendukung eksistensi mereka.
Timbul pengharapan pada waria untuk diterima secara utuh oleh masyarakat.
Maka
alangkah baiknya jika waria agar dalam kehidupaannya dapat berlaku secara wajar
jikapun menjadi wanita maka bertingkah laku seperti wanita yang anggun dan
sopan. Dan jika memakai baju agar
melihat waktu dan tempat sehingga, masyarakatpun bisa lebih mudah menghargai
waria yang benar-benar ingin menjadi wanita sesungguhnya. Kemudian untuk
masyarakat agar tidaklah hanya melihat hanya dari penampilan seseorang karena
dalam hidup kita harus saling memahami dan menghargai sesama dan tidaklah hanya
melihat seorang waria itu dalam hal fisik saja karena setiap yang mereka
lakukan pasti ada alasan nya entah itu faktor ekonomi yang mendorong mereka.
Oleh karena
itu, jangan menghujat mereka dan jangan mengucilkan mereka dan sebaiknya rangkul
mereka karena bagaimanapun mereka butuh seseorang yang memotivasi dalam
kehidupan mereka dan bantu mereka agar mereka dapat merubah diri nya ke dalam
wujud asli nya agar tidak lagi menyerupai wanita sehingga mereka belajar untuk
menghargai diri sendiri.
Pria bertopeng
(tinjauan permasaalahan individu, keluarga, dan
masyarakat)
Siapa yang
tau orang yang kerap kita puja-puja keberadaannya dan selalu kita
nanti-nantikan dalam hidup kita justru menjadi orang yang dapat menjerumuskan
kita ke dalam ruang lingkup yanng tak kita inginkan. Sedih bukan? Awal nya
mereka membahagiakan namun pada akhirnya kebanyakan mencelakakan dan melukai
kita. Banyak yang bersifat manis diluar sana entah ia pria bertopeng. Banyak yang
membahagiakan diawal namun berujung penyesalan masalah ini kerap kita ketahui
disekitar kita. Yaitu kekerasan dalam pacaran.
Apa itu
kekerasan dalam pacaran atau dating
violence ? kekerasan dalam pacaran merupakan kasus yang sering terjadi setelah kekerasan dalam
rumah tangga. Dan kasus kekerasan dalam pacaran ini jarang sekali mendapatkan
sorotan jika sama-sama kita bandngkan dengan kekerasan dalam rumah tangga, hal
ini terjadi karena banyak sekali orang-orang yang mengabaikan masalah ini
padahal masalah ini sama pentingnya dengan masalah kekerasan dalam rumah
tangga. Pengertian dari kekerasan pacaran itu sendiri adalah tindak kekerasan
terhadap pasangan yang belum terikat pernikahan dan mencakupi kekerasam fisik,
psikologi, dan ekonomi.
Banyak yang
beranggapan bahwa dalam berpacaran tidaklah mungkin terjadi kekerasan, karena
pada umum nya masa pacaran adalah masa-masa yang penuh dengan hal-hal yang
indah, dimana setiap hari diwarnai oleh manisnya tingkah laku serta kata-kata
yang di ungkapkan oleh sang pacar. Hal ini dapat dipahami sebagai salah satu
bentuk ketidaktahuan masyarakat mengenai hal ini dan kurang nya informasi
mengenai hal ini. Tetapi banyak data yang membuktikan bahwa kekerasan dalam
pacaran setiap tahunnya selalu mengalami peningkatan. Berdasarkan survey yang
telah dilakukan di Amerika, diketahui bahwasanya 21 persen dari remaja
laki-laki dan 22 persen dari remaja perempuan melaporkan mengalami kekerasan
fisik atau psikis yang dilakukan oleh pasangannya. Dalam penilitian lain
dinyatakan bahwa 32 persen dari remaja melaporkan mengalami hal yang sama baik
laki-laki maupun perempuan.
Hasil
penelitian lain tentang KDP menyebutkan bahwa karakteristik kepribadian korban
kekerasan dalam pacaran antara lain adanya kebutuhan yang kronis akan cinta dan
perhatian, mempunyai harga diri rendah dan persepsi yang negatif terhadap
dirinya sendiri, adanya ketergantungan terhadap sesuatu (misalnya, pekerjaan,
drugs, alkohol, dsb), ingin selalu merasa dibutuhkan, sehingga marah jika
terisolir, dan jika berkonflik selaalu tidak pernah terselesaikan dengan baik
(Rini dalam Dwiastuti, 2006). Hasil penilitian lain yang menyatakan 590 gadis
yang terkena kasus kenakalan remaja di Amerika Serikat dimana mereka yng
mengalami KDP adalah mereka yang melakukan hubungan seksual dimulai dari umur
13 tahun atau lebih awal dari self efficacy yang rendah dalam pencegahan dalam
pacaran (cheng et all, 2008).
Bentuk-bentuk kekerasan dalam pacara terbagi menjadi 2,
yaitu:
1.
Kekerasan emosional
Mendefinisikan
kekerasan emosional ini lebih berat dibandingkan dengan mendfinisikan kekerasan
seksual atau fisik yang relatif jauh lebih mudah. Meremehkan, mengabaikan,
meruntuhkan, merendahkan, mengomel. Mengkritik, adalah semua bentuk-bentuk yang
memungkinkan dalam pacaran. Kekerasan emosional adalah setiap perbuatan dan
ucapan yang mengakibatkan hilngnya rasa kepercayaan diri, hilangnya kemampuan
diri untuk beritndak, dan rasa tidak berdaya serta ketakutan terhadap pasangan.
Kekerasan emosional dapat juga dikatakan sebagai keadaan emosi yang sengaja
dibuat oleh seseorang untuk melukai ataupun mengedalikan pasangannya. Misalnya
saja, mengejek, curiga berlebihan, selalu menyalahkan pacar dan mengekang.
2.
Kekerasan seksual
Kekerasan
seksual adalah kekerasan terhadap hal-hal yang mencakup pelecehan seksual,
memaksa pasangan baik secara fisik maupun psikis untuk melakukan hubungan
seksual ataupun melakukan hubungan seksual tanpa persetujuan dan disaat
pasangan tidak meghendakinya dan melakukan hubungan yang tidak di sukai oleh
pasangannya. Contohnya, memaksakan kontak seksual yang didalamnya terdapat
perkosaan, protisi, sodomi, sodomi, dan lain-lain. Dan bentuknya berupa rabaan,
ciuman, sentuhan yang tidak dikehendaki, memaksa kita untuk melakukan hubungan
seks dengan beribu alasan tanpa persetujuan apalagi dengan ancaman akan
meninggalkan atau mengintainya.
Adapun penyebab kekerasan dalam pacaran antara lain:
1.
Pola asuh dan lingkungan keluarga yang kurang
menyenangkan
Misalkan
saja sikap kejam orang tua, berbagai macam penolakan orang tua dengan
keberadaan anaknya, dan sikap disiplin yang berlebihan sehingga anak merasa
terkekang dan ingin bebas. Hal semacam itu akan berpengaruh pada peran yang
dianut anak tersbut pada masa dewasa nya nanti, bila model peran yang diajarkan
kepada anak-anaknya tidak sesuai dengan model yang normal maupun standard hal
tersebut dapat mengakibatkan anak melakukan kekerasan tersebut.
2.
Peer group
Dalam hal
ini teman disekitar kita mendapatkan peran penting dan memiliki pengaruh besar
dalam memberikan kontribusi semakin tingginya kekerasan antar pasangan.
3.
Media massa
Dengan
adanya media massa TV, film sedikitnya memberikan kontribusi terhadap munculnya
sifat agresif terhadap pasangan. Ternyata tayangan kekesarasan yang sering
muncul dalam program siaran televisi maupun adegan sensual dalam film tertentu
dapat memicu tindakan kekerasan terhadap pasangan.
4.
Kepribadian
Teori
mengtakan bahwa orang dengan tipe A lebih cepat menjadi agresif daripada tipe
kepribadian B. Dan ini berlaku semakin tinggi harga diri yang dimiliki
seseorang maka ia memiliki peluang lebih besar untuk bertindak agresif.
Dan masih
banyak lagi hal-hal yang menyebabkan seseorang melakukan kekerasan dalam
pacaran, adapun dampak yang ditimbulkan dari kekerasan dalam pacaran yaitu,
menimbulkan dampak fisik maupun pikis.
Dampak fisik bisa berupa memar, patah tulang, dan sebagainya. Sedangkan luka
psikis bisa berupa terhina, dilecehkan, sakit hati, harga diri yang terluka dan
sebagainya. Seiring berjalan nya waktu korban merasa hal-hal yang dilakukan
oleh pasangannya merupakan hal yang wajar dan tidak perlu untuk ditakuti maupun diwaspadai padahal hal tersebut
tentunya merusak perkembangan remaja dalam mempelajari hubungan yang sehat.
Dampak yang ditimbulkan pun berupa depresi, menyalahkan diri sendiri, cemas,
dan mencoba bunuh diri.
Maka,
penanganan maupun pencegahan yang dapat dilakukan tentuna tergantung dari
penyebabnya. Kita harus telusuri terlebih dahulu apa penyebabnya baru kita
dapat melakukan penanganan nya bagaimana. Proses penanganan nya pun perlu melibatkan
kedua belah pihak baik pelaku maupun korban karena biasanya pada kasus ini
diakibatkan oleh ketergantungan pada masing-masing pihak. Kepada korban
perlunya meyakinkan dia untuk berkata tidak untuk tindak kekerasan yang
dilakukan oleh pasangannya, membantunya melihat pilihan dan alternative yang
dapat menumbuhkan kepercayaan pada dirinya. Untuk koran yang mengalami trauma
dibutuhkan penanganan khusus oleh psikiter atau psikolog atau melalui
pendamping korban untuk tahap awal.
Oleh karena
itu, perlunya terutama pada remaja untuk terus mewaspadai dan memantau pasangan
nya masing-masing agar tidak sampai melakukan hal tersebut. Jika sudah ada
tanda-tanda yang mencurigakan pada pasangan kalian maka tinggalkan. Dan
perlunya kehati-hatian dalam memulai suatu hubungan tentunya harus dipikirkan
secara matang-matang, jangan sampai
dengan menjalin hubungan tersebut merugikan diri anda sendiri. Jangan mudah
terbuai ataupun terayu oleh pasangan kalian jika mereka ingin melakukan hal-hal
yang menyimpang. Dan perlu nya mendekatkan diri kepada yang kuasa agar
terhindar dari perbuatan-perbuatan tersebut.
Musuh terdekat
(tinjauan permasalahan pemuda dan sosialisasi)
Sama-sama
kita ketahui bahwa masa remaja merupakan masa yang kita tunggu-tunggu
kedatangannya. Dengan masa ini seseorang mencari jati diri nya, namun jangan
salah masa remaja ini justru bisa menjadi musuh terdekat kita mengapa begitu? Karena
dari sini seseorang dapat melakukan hal yang tidak sewajarnya dilakukan berawal
dari rasa ingin tahu yang akhirnya dapat menjurumuskan diri mereka namun beda
halnya dengan remaja yang dapat mengendalikan dirinya justru itu menjadi teman
dekat mereka.
Remaja
dengan segala perubahan dan fakta-fakta nya memang selalu menjadi sesuatu yang
menarik untuk dibahas. Remaja merupakan masa peralihan antara masa kanak-kanak
dan masa dewasa, yang dimulai pada saat terjadinya kematangan sosial antara
usia 11 atau 12 tahun sampai dengan 20 tahun yaitu menjelang masa dewasa muda.
Masa remaja bermula pada perubahan fisik yang cepat, pertambahan berat dan
tinggi badan yang dramatis, perubahan bentuk tubuh, dan perkembangan
karakteristik seksual seperti pembesaran buah dada, perkembangan pinggang, dan
kumis, dan dalamnya suara. Pada perkembangan ini, pencapaian kemandirian dan
identitas sangat menonjol (pemikiran semakin logis, abstrak, dan idealis) dan
semakin banyak menghabiskan waktu di luar keluarga.
Seseorang
yang sedang beranjak dewasa atau pun pubertas keingintahuan nya pun semakin
bertambah dan kebanyakan dari merera sedang sibuk mencari jati diri mereka
misalnya saja mereka justru ingin tahu sebenarnya siapa mereka dan tujuan
mereka hidup namun, ada saja yang penyebab nya berdasarkan keingin tahuan nya
yang tinggi yang terkadang justru dapat membawa diri mereka kepada sesuatu yang
membahayakan mereka ataupun menjerumuskan mereka kepada lubang yang salah.
Salah satu contoh nya saja yang banyak diketahui dikalangan kita ini adalah
seks bebas yang merajalela di kehidupan saat ini. Salah satu faktor utama nya
adalah dilihat dari lingkungan dan sekitarnya.
Seks bebas
merupakan hubungan yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan tanpa adanya
ikatan perkawinan. Kita tentu mengetahui bahwasanya hal ini merupakan salah
satu tindakan yang menyimpang dan tidak sesuai dengan norma maupun agama.
Masalah seks ini kerap sering kita dengar di media masa, maupun dilingkungan
sekitar kita. Remaja juga merupakan individu yang labil emosinya bahkan kadang
tidak terkontrol oleh pengendalian yang benar. Kurang nya iman masalah
keluarga, ajakan-ajakan teman yang membuat seorang remaja melakukan hal
tersebut. Padahal generasi muda adalah generasi bangsa serta penerus bangsa
yang dimana remaja sangat dibutuhkan potensi nya untuk membenarkan negara ini
dan merupakan tulang punggung bangsa untuk memajukan bangsa dan meneruskan
kepemimpinan banga ini agar lebih baik.
Awal mula
disebabkannya seks bebas ini adalah pacaran. Mereka menganggap bahwasanya pacar
merupakan calon suami yang berhak mendapatkan apapu termasuk kepuasan yang
cenderung negatif. Padahal hal tersebut tidaklah baik, kebanyakan dari mereka
yang melakukan hal ini karena berpikir bahwa untuk mencari calon pendamping
yang pas agar tidak salah pilih atau bisa juga untuk mengenali karakter maupun
watak dari pasangan nya masing-masing. Dalam hal ini berdua-dua an pun didalam
islam dianggap sebagai hal yang tabu yang tidak seharusnya dilakukan oleh
karena nya dalam islam pun tidak diperkenankan pacaran karena banyak hal
negatif yang akan ditimbulkan dari adanya hubungan tersebut. Dan fakta
menyatakan bahwa banyak nya perzinahan yang dilakukan akibat pacaran.
Selain
pacaran salah satu penyebab nya adalah untuk mendapatkan uang tambahan. Padahal
masih banyak cara untuk memperoleh uang yang halal dengan cara yang halal, mereka mengatakan untuk mencari kerja ataupun
uang sampingan. Mayoritas dari mereka menyukai seks dan menganggap pekerjaan
tersebut adalah pekerjaan yang mudah untuk dilakukan dan dapat menghasilkan
uang dalam waktu singkat tanpa bersusah payah, sehingga kebanyakan dari mereka
yang sudah ketagihan dengan uang yang didapat sampai lupa dampak yang akan
mereka tanggung akibat perbuatan mereka sendiri. Maka tidak heran dengan adanya
hal ini banyak perempuan-perempuan yang hamil diluar nikah. Pengertian pacaran
zaman sekarang dengan 15 tahun yang lalu pun berbeda akibatnya banyak remaja
saat ini yang putus sekolah karena hamil. Oleh karena itu, perlu nya arahan
dibawah bimbingan orang tua dan hendaknya orang tua memberikan idealisme maupun
kenyataan kepada anaknya bahwa segala sesuatu yang kita harapkan belum tentu
menjadi kenyataan demikian juga dengan kenyataan belum tentu sesuai dengan yang
kita harapkan. Keindahan dan kehangatan dalam pacaran pun tidak akan
berlangsung lama maka perlu nya kesadaran bagi remaja untuk berpikir kembali
dengan melakukan seks bebas serta dampak yang akan ditanggung apabila seorang
remaja melakukan hal tersebut.
Dalam
perkembangan nya saat ini yang semakin maju, justru banyak sekali
penyimpangan-penyimpangan yang diakukan oleh para remaja. Pergaulan remaja saat
ini pun telah jauh diluar batas norma-norma sehingga tidak heran jika banyak
remaja saat ini yang melakukan hal-hal diluar batas misalnya saja seks bebas,
HIV atau AIDS, dan banyak dikalangan wanita atau remaja sekalipun yang hamil
diluar nikah. Itu disebabkan karena mereka telah memasuki tempat-tempat khusus
orang dewasa.
Bahkan
sekarang pelakunya bukan saja mahasiswa dan anak SMA namun, sudah merambat
kepada anak SMP yang kebanyakan dari mereka mengakui pernah melakukan seks
bebas dan yang melakukan sekitar 60-80% kemudian hal-hal ini banyak terjadi
dilingkungan kos-kosan dan mereka yang melakukannya usia 16-25 tahun. Umumnya
mereka masih bersekolah ditingkat Sekolah Lanjut Tingkat Atas (SLTA) dan
mahasiswa namun ada juga yang terjadi juga pada tingkat Sekolah Menengah
Pertama (SMP).
Awal mula
seseorang remaja terjerumus dalam ke dalam seks bebas adalah salah bergaul dan terpengaruh
oleh ajakan teman. Maksud dari salah bergaul ini bukan berarti kita harus
memilih-milih dalam bergaul tetapi hendaknya tidak terpengaruh oleh ajakan
teman yang membawa kita kepada hal yang negatif dan tetap berpegang teguh
terhadap norma agama dan hukum karena bergaul tidak harus melakukan seks bebas.
Dan kebanyakan dari remaja ingin dikenal ataupun diakui oleh teman yang lain
nya dalam hal lain mereka ingin dianggap gaul sehingga mereka melakukan hal
tersebut yang seharusnya tidak mereka lakukan.
Oleh karena
itu kita sebagai remaja harus membiasakan diri untuk berpikir panjagn sebelum
bertindak hendaknya dipikir berulang kali untuk melakukan hal-hal tersebut.
Apalagi kita belum mengetahui dampak baik dan buruk yang akan ditimbulkan untuk
kita, keluarga kita, dan orang lain tentunya.
Berikut adalah faktor-faktor pendorong seseorang
melakukan seks bebas:
1.
Kehidupan iman yang rapuh
Kehidupan
beragama yang baik dilengakapi dengan ketaatan, pemahaman dalam beragama serta
menjalankan ajaran-ajaran yang baik yang sesuai dengan syariat tanpa
dipengaruhi oleh kondisi dan keadaan apapun. Seseorang dapat melakukan hubungan
seks karena kurang nya iman pada dirinya dan kurangnya pengetahuan agama yang
melekat pada dirinya. Maka, perlunya sebagai orang tua untuk mengenali agama
pada anak-anaknya. Jika pegetahuan agama anak masih sangat minim maka tidak
menutup kemungkinan pengetahuan nya tentang hal-hal yang diluar agama tentu
sangat minim.
2.
Kurang nya perhatian orang tua
Orang tua
akan sangat berperan dalam kehidupan anak-anaknya mereka dianggap penting dalam
pembentukan karakter anak-anak mereka. Oleh karena nya, kebahagiaan anak pun
tidak selalu berbentuk materi karena bagaimanapun mereka membutuhkan perhatian
dari kedua orang tuanya. Namun, berbeda dengan anak yang telah diberi perhatian
yang lebih oleh orang tua nya dan anak tersebut tetap memiliki kepribadian yang
buruk. Hal tersebut akan meninggalkan penyesalan pada akhir perbuatan remaja
atau mahasisa tersebut.
3.
Fasilitas yang lengkap
Fasilitas
yang lengkap justru memicu anak untuk melakukan pergaulan bebas. Namun, hal
tersebut kembali kepada anak nya masing-masing. Jika anak dapat menyikapi
fasilitas tersebut dengan baik maka hal tersebut justru bermanfaat bagi anaknya
tetapi, jika anak tersebut menyikapi fasilitas tersebut dengan tidak baik maka
hal tersebut justru dapat menjerumuskan anaknya kepada pergaulan bebas.
Contohnya saja kontrakan yang membuat para remaja ataupun mahasiswa melakukan
seks bebas. Rumah yang sering kosong misalnya ataupun sepi hal itu dapat memicu
remaja ataupun mahasiswa untuk melakukan seks bebas.
4.
Tekanan dari seorang pacar
Hal tersebut
sering terjadi karena kebutuhan seseorang untuk dicintai dan mencintai maka
seseorang harus melakukan apa saja dan rela melakukan nya untuk seseorang yang
kita cintai tanpa memikirkan resiko yang aka ditanggung nya dalam hal ini yang
berperan tidak hanya soal nafsu tetapi memberontak terhadap kedua orang tuanya
sehingga anak hanya membutuhkan hubungan, harga diri, rasa aman layaknya orang
dewasa. Dan hal ni telah banyak ditemukan.
5.
Rasa ingin tahu tentang hal-hal yang berbau seksual
Pada usia
remaja keingintahuannya begitu besar apalagi tentang seks belum lagi jika
temannya mengatakan bahwa seks itu nikmat ditambah informasi yang tak terbatas masuknya.
Maka, rasa penasaran tersebut pun mendorong mereka untuk melakukan berbagai
percobaan yang tanpa mereka sadari hal itu justru membahayakan mereka.
Ada banyak
sebab remaja melakukan pergaulan bebas. Penyebab tiap remaja mungkin
berbeda-beda namun semuanya berakar dari penyebab utama yaitu kurangnya
pegangan hidup remaja dalam hal keyakinan atau agama dan ketidakstabilan emosi
remaja. Hal ini yang menyebabkan perilaku tidak terkendali namun, semuanya
kembali kepada diri sendiri menjadi orang seperti apa kita. Jauhilah pergulan
bebas dan hal-hal negatif yang dapat merugikan diri sendiri.
Adapun
solusi ataupun pencegahan yang dapat dilakukan agar terhindar dari seks bebas
ialah hindari berpacaran karena semuanya dapat dimulai dari sini, komunikasi
dan komitmen agar tetap berada dalam batasan yang benar, kontrol dari keluarga
dan orang tua, hindari pergaulan yang buruk, hindari bacaan dan film-film
porno, serta seorang remaja harus bisa menjaga diri sendiri dengan akhlak yang
baik dan ajaran-ajaran agama.
Oleh karena
itu, kita harus dapat menempatkan diri sebagai remaja yang baik dan benar sesui
dengan tuntunan agama dan norma hukum yang berlaku agar terhindar dari
perbuatan tersebut. Ingatlah kita sebagai remaja adalah calon penerus bangsa
dimasa depan, dan jika kita melakukan hal tersebut mau jadi apa negara kita
nanti maka, mulai sekarang cobalah untuk mendekatkan diri kepada tuhan yang
maha esa untuk mempertebal keimanan kita, karena iman adalah dasar yang paling
utama didalam diri kita sendiri.
Langganan:
Postingan (Atom)
Waspada Virus Korona
WASPADA VIRUS KORONA (MATA KULIAH ETIKA PROFESI) Beberapa hari ini dunia dihebohkan dengan adanya virus baru yang sedang merajalela...
-
STANDAR INDUSTRI DAN PENERAPANNYA DALAM STANDAR INDUSTRI HIJAU (SIH) Standar Industri Indonesia (SII) merupakan standar dari mutu prod...
-
HANGOUT WITH MY FRIENDS (MATA KULIAH ETIKA PROFESI) Belum lama ini sekitar beberapa hari yang lalu aku dan kedua teman ku yaitu, Mikani...
-
REVIEW SKRIPSI “Usulan Perbaikan Jadwal Induk Produksi Produk AKI Mobil Di PT XYZ” (MATA KULIAH ETIKA PROFESI)